Pemimpin Dewasa
by : Imam Suprayogo
"Anak-anak saat melakukan
permainan, lalu ia kalah, maka ia boleh-boleh saja menyalahkan pihak
kompetitornya. Akan tetapi manakala hal tersebut dilakukan oleh calon pemimpin,
maka rasa- rasanya hal tersebut menunjukkan bahwa mereka ternyata belum dewasa"
Berebut
menjadi pemimpin di alam demokrasi tampaknya seperti dalam kompetisi lain pada
umumnya. Dalam setiap kompetisi, selalu ada pihak yang merasa tidak puas
terhadap jalannya permainan. Terutama pihak yang kalah, apalagi selisih
kekalahan itu tidak terlalu banyak, lantas ia pun menuduh pesaingnya bermain
tidak jujur. Tidak jarang, dalam berkompetisi, termasuk kompetisi Pilkada,
pihak yang kalah menyampaikan protes, dan bahkan melapor ke pengadilan. Alasan
yang digunakan bermacam-macam, misalnya kompetitornya tidak jujur, menggunakan
politik uang, terjadi penyimpangan yang bersifat masif dan terstruktur, Kesalahan
kadang juga dialamatkan kepada pihak penyelenggara, misalnya KPU di tuduh
melakukan penyimpangan dalam pembagian kartu undangan, penghitungan suara tidak
bisa dipercaya, dan lain sebaginya.
Namun, jarang sekali terjadi ada pihak yang menang
kemudian memprotes pihak yang kalah, sekalipun mereka melakukan penyimpangan.
Protes selalu datang dari pihak yang kalah. Lalu aneh nya, protes itu selalu
disampaikan ketika pemilihan sudah selesai Pada saat pemilihan berlangsung
biasanya belum muncul protes. Dengan demikian, seolah-olah protes atau
keberatan selalu dijadikan alat untuk meraih kemenangan atau sebagai
rasionalisasi bagi pihak yang kalah. Protes yang diajukan pihak yang kalah
dalam Pilkada yang terjadi di mana-mana mengingatkan kita semua pada permainan
yang dilakukan anak-anak sewaktu kecil. Anak kecil yang bermain de- ngan
teman-temannya dan dinyatakan kalah, dia akan merasa tidak terima. Mereka menuduh
pemenangnya tidak jujur, banyak melakukan penyimpangan, dan tuduhan-tuduhan
lain.
Melakukan-melakukan penyimpangan, dan
tuduhan-tuduhan lain. Mungkin pihak yang kalah dalam kompetisi, termasuk kompetisi
calon pemimpin, tidak mampu menanggung beban psikologis kekalahan itu. Sejak
awal, mereka tidak siap kalah. Mereka hanya membayangkan dirinya akan menang.
Berbagai logika dan kalkulasi telah dilakukan, bahwa kemenangan pasti
diperoleh. Sehingga, tatkala kemenangan itu tidak terbukti, mereka terkejut
lantaran belum menyiapkan reasoning sebab-sebab kekalahannya. Padahal reasoning
kekalahan itu sangat diperlukan bagi siapa pun yang sedang mengalami kekalahan.
Melihat kenyataan itu, ternyata orang dewasa pun tatkala mengikuti kompetisi
atau permainan, tak ubahnya anak-anak. Mereka belum tentu siap kalah. Yang
terbayangkan adalah keindahan tatkala kemenangan itu benar-benar berhasil
diraih. Kekalahan dan berbagai risiko tidak pernah tergambarkan. Kalkulasi yang
dihasil kan selalu menang dan menang. Padahal kalkulasi politik tidak mudah.
Banyak variabel yang harus diperhitungkan. Hitungan politik itu tidak mudah
dilakukan, apalagi bagi orang yang sudah terlalu bersemangat menang Rupanya
mencari orang yang benar-benar dewasa dalam berkompetisi itu tidaklah mudah,
termasuk juga kompetisi menjadi.
Pemimpin dalam Pilkada. Hal seperti itu
mengakibatkan Mahkamah Konstitusi kebanjiran pekerjaan. Dalam Pilkada, orang
kalah dan kemudian protes ternyata terjadi di mana-mana. Hal itu rasanya mirip
permainan yang diikuti anak-anak. Tatkala kalah mereka protes bahwa lawannya
curang atau banyak melakukan penyimpangan. Anak-anak saat melakukan permainan,
lalu ia kalah, maka ia boleh-boleh saja menyalahkan pihak kompetitornya. Akan
tetapi manakala hal tersebut dilakukan oleh calon pemimpin, maka rasa- rasanya
hal tersebut menunjukkan bahwa mereka ternyata belum dewasa. Calon pemimpin
mestinya sudah menyiapkan mental yang kuat, baik ketika menang maupun ketika
harus kalah. Jika mental seperti itu dimiliki, artinya calon pemimpin yang dimaksud
sudah dewasa.

Komentar
Posting Komentar