Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2017

Kepergianmu...

Gambar
    Kehilanganmu, hal yang sangat aku takutkan bagaimana jika kau benar-benar pergi meninggalkanku, tapi aku perlahan mulai tenang seolah-olah itu bukan menjadi kekhawatiran. Karena kaupun juga mengatakan tak ingin kehilanganku, dengan mengangkat tangan kananmu dan menjulurkan jari manismu seolah-olah ingin mengajak mengaitkan jari manisku, Akupun mempercayai itu. Waktu begitu cepat berlalu, disini aku menanti malam sedangkan kau disana ingin menanti pagi. Tak berada disisi perlahan-lahan membuat semuanya mulai berubah, kurangnya komunikasi, sikapmu dan gaya bahasa yang telah berbeda dan mungkin karena kesibukanmu. Kau bersama orang-orang baru dan menemukan hal-hal yang belum kau temui. Kini, dirimu yang cukup lama aku kenal dengan mudahnya mengabulkan hal yang sangat aku takutkan, dan akhirnya itu benar-benar terjadi. Timbul lah perdebatan, saling serang opini yang mungkin berunsurkan fakta, pemahaman kita yang berbeda. Jari manis dahulu yang kau kait...

Bercerminlah...

Gambar
Toleransi! Kalian ingin toleransi? Toleransi yang bagaimana kalian inginkan? Apakah dengan melepas ternakan babi di pemukiman orang islam, sampai akhirnya orang islam meninggalkan rumahnya. Apakah kalian bertoleransi?     Dan Kalian berbicara tentang HAM HAM yang seperti apa kalian inginkan? Apakah seperti di Negeri Palestina atau seperti etnis Rohingya di Myamar ? Islam sebagai mayoritas disuatu negara sangat menghargai kaum minoritas, tapi tidak dengan sebaliknya. Dan kau berbicara Khilafah. Pernahkan kalian mengingat kebelakang! Siapa yang pernah menjajah bangsa ini? Jangan ajarkan kami toleransi, karena kami sangat menjunjung tinggi toleransi.

Pemimpin Dewasa

Gambar
by : Imam Suprayogo "Anak-anak saat melakukan permainan, lalu ia kalah, maka ia boleh-boleh saja menyalahkan pihak kompetitornya. Akan tetapi manakala hal tersebut dilakukan oleh calon pemimpin, maka rasa- rasanya hal tersebut menunjukkan bahwa mereka ternyata belum dewasa"       Berebut menjadi pemimpin di alam demokrasi tampaknya seperti dalam kompetisi lain pada umumnya. Dalam setiap kompetisi, selalu ada pihak yang merasa tidak puas terhadap jalannya permainan. Terutama pihak yang kalah, apalagi selisih kekalahan itu tidak terlalu banyak, lantas ia pun menuduh pesaingnya bermain tidak jujur. Tidak jarang, dalam berkompetisi, termasuk kompetisi Pilkada, pihak yang kalah menyampaikan protes, dan bahkan melapor ke pengadilan. Alasan yang digunakan bermacam-macam, misalnya kompetitornya tidak jujur, menggunakan politik uang, terjadi penyimpangan yang bersifat masif dan terstruktur, Kesalahan kadang juga dialamatkan kepada pihak penyelenggar...