Kepergianmu...



   





Kehilanganmu, hal yang sangat aku takutkan bagaimana jika kau benar-benar pergi meninggalkanku, tapi aku perlahan mulai tenang seolah-olah itu bukan menjadi kekhawatiran. Karena kaupun juga mengatakan tak ingin kehilanganku, dengan mengangkat tangan kananmu dan menjulurkan jari manismu seolah-olah ingin mengajak mengaitkan jari manisku, Akupun mempercayai itu.
Waktu begitu cepat berlalu, disini aku menanti malam sedangkan kau disana ingin menanti pagi. Tak berada disisi perlahan-lahan membuat semuanya mulai berubah, kurangnya komunikasi, sikapmu dan gaya bahasa yang telah berbeda dan mungkin karena kesibukanmu. Kau bersama orang-orang baru dan menemukan hal-hal yang belum kau temui.

Kini, dirimu yang cukup lama aku kenal dengan mudahnya mengabulkan hal yang sangat aku takutkan, dan akhirnya itu benar-benar terjadi. Timbul lah perdebatan, saling serang opini yang mungkin berunsurkan fakta, pemahaman kita yang berbeda. Jari manis dahulu yang kau kaitkan hingga saling mengait yang aku anggap adalah sebuah janji. Namun tidak bagimu, Dengan pertimbangan kesepakatan, aku tak lagi menahanmu untuk tetap tinggal, bukan karena aku tlah ada seseorang yang baru. Tetapi, karena tak baik jika diteruskan. Kaupun telah memilih seseorang baru yang mungkin benar-benar menginginkanmu.

Ada sebuah kutipan dari Buya Hamka, “Cinta itu menguatkan bukan melemahkan”. Kata-kata ini juga terdapat di dalam sebuah film yang berjudul “tenggelamnya kapal van der wijk” salah satu novelya yang difilm kan. Kata-kata itu disebutkan oleh muluk dalam film tersebut, ia adalah salah satu personel group band Nidji. Kata-kata itu menyentuh perasaanku, membangkitkanku dari kegalauan yang melanda. Perlahan demi waktu berjalan, kegalauan itu perlahan pergi, tak butuh waktu yang lama. Dapat aku simpulkan dengan memudarnya kegalauan itu dengan melakukan hal-hal yang positif.

Kini, tanpa kau disisiku aku lebih leluasa melakukan hal-hal positif, mengenal orang-orang banyak. Apa yang aku lakukan sekarang lebih berarti tanpa harus mengutamakan mu yang dulu ku anggap special. Berkelana dengan smartphone membuang banyak waktu yang tidak ada hasilnya. Bagaimanapun, kita pernah menjalin hubungan yang tak sebentar, menjadikan semua ini sebuah pelajaran, semoga engkau juga menjadi pribadi yang lebih baik tanpa diriku disisimu.

Lewat tulisan ini, aku ingin menyimpulkan bahwa perjalanan cintaku masih belum usai, hidup ini bukanlah segalanya tentang cinta, pertemuan dan perpisahan hukumnya adalah fitrah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pemimpin Dewasa

Tentang Habib Rizieq yang jarang diketahui

Asal Usul Nama Penyengat Olak