KETIKA PEMIMPIN DESA ALERGI KRITIK
Oleh:
Nando Nawawi
Memang
tidak semua pemimpin desa seperti judul di atas. Akan tetapi, sangat
disayangkan jika ada pemimpin desa atau orang yang dituakan datuk atau
nyai sebagai pemimpin masyarakat desa begitu alergi dengan kritikan.
Jangankan meminta masukan, bahkan dirinya merasa seolah-olah paling pintar.
Pemimpin seperti ini biasanya memiliki pemikiran yang sempit dan hasil kerjanya
pun tidak banyak yang dapat ia perbuat.
Hal
ini wajar karena hal sepele misalnya, untuk mengadakan musyarawah pembangunan
desa tidak dilakukan secara terbuka sehingga semua kebijakan-kebijakan yang ia
putuskan telah benar menurut dirinya sendiri.
Istilahnya,
'main tunjuk' kerap dilakukan dalam pengangkatan ketua RT, perangkat desa,
anggota BPD dan lain-lain. Bahkan, dipilihlah orang-orang yang sekiranya tidak
menjadi hambatan bagi keinginannya. Biasanya, orang yang kurang
sependapat dengannya tidak terpakai sehingga diisilah oleh orang-orang yang
manut saja dan tidak sedikit diisi oleh orang yang tidak memiliki moral, angkuh
dan minim prestasi.
Hasilnya,
seperti penggunaan Dana Desa, BUMDes dan lain-lain dipergunakan tidak tepat
sasaran, tidak memberikan manfaat bagi masyarakat banyak sehingga hanya menjadi
bangunan hantu. Tidak bermaksud cerita mundur, di masa lalu, hasil ini akan
berbanding terbalik jika sebelum dilakukan pembangunan dahulu diadakanlah
musyarawah Desa meminta pendapat dan masukan dari masyarakat apa saja yang
harus dibangun dan apa dampak bagi masyarakat desa. Sehingga masyarakat dapat
merasakan dampak pembangunan dana desa tersebut.
Akhirnya,
tidak ada maksud lain dari tulisan ini, penulis hanya ingin menyampaikan
keluh kesah apa yang dirasakan sebagai anak desa. Kemajuan desa adalah
keinginan masyarakat bersama sehingga manfaat dari penggunaan dana desa bisa
dirasakan oleh masyarakat dan generasi penerus. Maka dibutuhkan pemimpin desa
yang tidak anti kritik. Jika alergi, maka pembangunan desa akan sia-sia.
*Pemuda
Desa

Komentar
Posting Komentar